Saya bukan penggemar make up, atau orang yang tahu persis tentang cara merawat kulit, memilih produk yang cocok dan sebagainya. Tapi, jujur, pengen ngerti juga tentang per-skin care-an dan per-make up-an buat investasi di hari tua nanti dan tampil cantik di depan suami (Eaaa). Beberapa saat lalu, banyak teman-teman yang sedang membahas produk skin care yang cocok. Lalu, ada yang share kalau dia membersihkan wajah dengan madu. Wew, saya baru tahu tentang itu. Tanpa googling dan tanya-tanya lebih lanjut, saya langsung saja mencobanya di rumah. And, this is what I do. Sebelum mandi, saya cuci muka dulu, basuh wajah dengan air, lalu keringkan lap atau handuk. Saya lanjut oles-oles madu di wajah, cukup 2 tetes madu kalau untuk saya. Gak perlu terlalu tebal. Karena sedikit juga sudah cukup merata menurut saya. And then, mandi deh (kalau mandi normal saya paling sekitar 10 menit). Sebelum selesai mandi, bilas wajah. Hasilnya di wajah saya? Kalau kata suami sih brintis-brintis(?) kecil berkurang, jadi wajah lebih halus 😁. Makin halus kalau ditambah rajin pakai krim malam (tapi saya suka ketiduran).
++Kulit saya termasuk jenis kulit kering, saya pakai masker ini maksimal 2kali sehari, karena ada sensasi agak panas waktu awal masker jadi saya takut kulit saya makin kering (Entahlah, analisis ini benar atau gak 😅)
++Kalau lagi gak buru-buru, sebelum pakai masker madu, biasanya saya bersihin wajah dulu pakai susu pembersih. Kulit wajah terasa lebih fresh
++Ada juga yang menambahkan jeruk nipis di masker madu ini.
Selasa, 14 Juni 2016
Membersihkan Wajah Dengan Madu
Selasa, 05 April 2016
Dear Son, I miss you already
6 April 2016. 13.08
Dear Alief,
Saat bunda menulis ini, kamu sedang tidur siang, hampir terbangun, guling guling ke kanan kiri, karena kamu baru pipis. Kamu kalau siang hari hampir tidak pernah pakai diapers, jadi, tempat tidur basah karena ompolmu sudah biasa. Karena kamu terlihat dan terdengar gelisah, Bunda menghampirimu. Bunda mengipasimu, udara sangat panas, dan kamu, seperti kebanyakan bayi lain, tidak tahan panas. Bunda menikmati memandangimu wajahmu yang tenggelam dalam ridur. Seketika Bunda merasa sedih. Ini hari kerja, Rabu. Tapi Bunda bisa memandangimu tidur siang. Sungguh, Bunda merasa sangat bersyukur. Tapi sebentar lagi Bunda akan kembali ke kantor, Bunda akan sangat merindukan saat-saat seperti ini nak, menikmati setiap perkembanganmj. Menikmati celotehanmu, tertawamu, senyummu, bahkan tangismu saat Bunda pergi, atau terbangun dari tidur dan mencari Bunda. I miss that moments already. 😢😢 Bunda merasa masih banyak PR untukmu nak. Semoga Bunda mampu memberikan yang terbaik untukmu.
Dear Alief, anakku sayang. Ayah dan Bunda sungguh sangat menyayangimu.Tumbuhlah dengan sehat, ceria, dan bahagia. Bunda titipkan kamu pada Alloh, Yang Maha Penyayang, Maha Kuasa atas segala sesuatu. Alloh Menyayangimu nak.
Rabu, 26 Agustus 2015
Pelayanan SIM di Polres Kebumen, Jawa Tengah
26 Agustus 2015.
Ini sepertinya pertama kalinya saya membuat tulisan tentang pelayanan pemerintah. Dan kali ini adalah tentang pelayanan institusi Polri, institusi yang sampai sekarang saya belum bisa respek kepadanya. Oke, saya yakin bahwa tidak semua orang itu jahat, korup, pasti ada yang baik. Tapi yang baik, seringkali tidak terlihat atau tidak memperlihatkan diri.
Hari ini, saya melakukan perpanjangan SIM C. Mumpung mudik, pas masa berlaku SIM saya juga habis. Dari rumah sudah kepikiran "Pelayanan Polri udah bagus belum ya". Berharap sudah membaik, apalagi bbrpa waktu lalu ada kasus ttg simulasi SIM (eh atau apa ya namanya). Dan?..jeng jeng..dibuat poin2 aja deh kronologinya...here it goes..
1. Periksa kesehatan. Saya berangkat diantar bapak, Sebelum sampai ke polres, mampir dulu ke poliklinik polres (entah apalah nama resminya), untuk mendapatkan surat kesehatan sebagai salah satu persyaratan perpanjangan/pembuatan sim (harus dari klinik polri ya?). Datang langsung ngambil nomor antrian, terus dipanggil. Tanpa senyum sama sekali, malah terkesan angkuh, ibu2 memanggil antrian(Namanya Puspita Ninsgih). Ditanya ktp sama golongan darah. Selanjutnya, diukur tinggi dan berat badan, lalu antri lagi untuk dipanggil tes kesehatan. Tidak berapa lama, saya dipanggil, masuk ke ruangan, ditanya nama. Lalu pak polisi yang berjaga (namanya Legiman) cuma ngisi sekenanya, tekanan darah, tes mata letter E, sama sekali tidak dilakukan. Sret sret sret, selesailah sudah. "Administrasinya 25ribu ya mba". Okesip. Saya masih merasa agak wajar ada biaya untuk hal seperti ini. Cuma kok ya ini jadinya surat kesehatan apa FORMALITAS?? Lha orang gak diapa2in. Dan di surat keterangan sehat ini tertulis dr. Widi Widayat sedangkan yg tanda tangan (kalau bisa disebut tanda tangan) adalah Pak Legiman tadi. Plus, saya tidak dapat kuitansi atas biaya tadi. Ada yang mengira hoax? Ya, saya lupa untuk memfoto surat keterangan sehat tadi, niatnya pas sudah sampai di Polres. Tapi begitu di sana, kondisinya chaos, orang2 penuh sesak tanpa mau mengantre. Saya hanya mencoba untuk menghafal nama petugas, secara hampir gak mungkin saya foto wajah petugas itu.
2. Mendaftar Perpanjangan SIM. Sampai di Polres, saya langsung mendaftar. Kondisi di sekitar loket chaos, kacau balau, penuh sesak, panas. Ada tiga loket, loket 1 loket pendaftaran, loket 2 loket pembayaran, loket 3 kalau tidak salah loket pengambilan sim kalau sudah jadi. Saya berniat untuk mengantri di loket 1, apalah daya orang2 sepertinya tidak mengenal kata "antri". Saya pun menyerah, Bapak saya langsung menyeruak kerumunan orang, menaruh berkas saya di loket, bertumpuk dengan berkas2 milik orang lain. Dan ternyata memang tidak ada sistem antrian. Orang yang ingin mendaftar hanya perlu meletakkan berkasnya di semacam keranjang di loket, untuk kemudian dipanggil dan diberi formulir, lalu mengisi formulir sendiri, dan menyerahkannya kembali ke keranjang di loket tadi.
3. Pembayaran biaya administrasi. Setelah menunggu lebih dari 1 jam dari pertama sampai di Polres, akhirnya nama saya dipanggil untuk membayar biaya administrasi. Dipanggil sekaligus bersama orang2 yang lain melalui pengeras suara. Datang ke loket 2, si petugas yang rapi berdasi (tulisan di papan nama Rizqy atau Rifqy saya lupa) memanggil nama saya. "Wah..orangnya rapi, pakai dasi, setidaknya ada yang memikirkan pelayanan", pikir saya saat itu. Petugas tersebut lalu memastikan saya mendaftar perpanjangan lalu menyebutkan biayanya 90ribu, itu yang saya dengar lewat telinga saya, bisa jadi saya salah dengar karena situasi di situ sangat berisik. Terakhir saya tahu, biaya perpanjangan sim c adalah 75ribu. Saya mencoba berbaik sangka, mungkin memang sudah naik, saya juga belum mengecek lagi sebelum berangkat ke Polres. Akhirnya saya membayar 100ribu, disuruh tanda tangan di formulir atau apalah itu yang saya tidak diberi kesempatan untuk membaca apa yang saya tanda tangani. Setelah itu, saya diberi uang kembalian 5000 dan 3 lembar bukti donasi PMI yang masing2 nominalnya 3000 (apa hubungannya???), dan saya TIDAK MENDAPAT KUITANSI. Saya ingin protes, tapi itu petugas sudah langsung sibuk melanjutkan memanggil yang lain, ditambah suasana panas dan sesak membuat saya tidak betah. Bukannya saya tidak mau menyumbang ke PMI tapi setidaknya sampaikanlah ke masyarakat. Atau memang ada aturan setiap yang mendaftar sim wajib donasi ke PMI?
Intinya, sebelum memakai jasa layanan Pemerintah, kita harus jadi masyarakat yang paham aturan dan berani memerangi korupsi. Oke, saya memang teledor tidak mengupdate aturan dulu sebelum berangkat. Inginnya sih, sekaligus bawa print out pasal2 aturannya. Saya juga tidak melakukan aksi nyata memerangi pungli di sini. Arggghhhhh akhirnya saya hanya menahan kesal di hati. Niat hati ingin melakukan pengaduan, ternyata website polri sedang revitalisasi, propam juga sama saja tidak bisa. Twitter humas polri? No response. Duh, kalau melihat kenyataan ini, saya kok jadi ngenes sendiri melihat negeri ini. Bagaimana mau maju kalau seperti ini terus, bagaimana negeri ini mau kaya?
Pemerintah dan masyarakat harus sama2 membenahi diri untuk melawan korupsi.
Ah...masih banyak yang ingin ditulis, tapi sepertinya sudah terlalu panjang. Takutnya malah menambah kesal di hati. So, orang2 jujur di Polri, semoga makin banyak, dapat mewarnai yang buruk2 itu. Sisakan trust di mata masyarakat. Bukankah Polri seharusnya mengayomi? Bukan "memoroti"?
Sabtu, 11 Juli 2015
Throwback-Life-Death
12 Juli, 00.14
Terbangun karena anak bangun, kemudian sholat isya (yang sangat terlambat). Tiba2 banyak sekali pikiran-pikiran melintas di kepala. Tak terasa sudah makin berumur, kurang dari satu bulan akan genap 26 umurku. Sekarang sudah ada malaikat kecil (barusan dia terbatuk sambil tidur) yang selalu menemani tidur, membawa begitu banyak kebahagiaan dalam hidupku, memberi warna warni penuh keceriaan bagi keluarga kecil kami, dan tentunya penambah kebahagiaan keluarga besar kami juga.
Benar2 seolah waktu berjalan begitu cepatnya. Masih membekas jelas di ingatan, saat masih sangat kecil, masih tinggal di rumah lama, punya bantal buluk kesayangan, tangan kena bunga api waktu ikut bakar2 sampah hasil nyapu2 halaman samping rumah. Masih ingat kemudian masuk SD, hari pertama (sepertinya) duduk di bangku panjang, dikumpulkan dengan teman2 baru (dulu gimana ya rasanya). Ingat juga saat dititipi ibu belanjaan pisang untuk dibawa pulang karena ibu masih ada keperluan di sekolah, tapi malah mampir main dulu, dan sang pisang sudah bonyok2 begitu nyampe rumah yang akhirnya sampainya juga hampir bareng dengan ibu. Imunisasi, lomba kartini, lompat jauh yang membuat kaki terluka, senam pagi, jadi dirigen waktu upacara, lomba paduan suara, les nari, tabloid fantasi dan banyak lainnya hal-hal waktu SD yang masih terekam di memori hingga saat ini. Sebagian masih terekam dengan baik, sebagian lagi samar2. Namun semuanya sama, indah dan mengasyikkan.
Dari SD beranjak ke SMP, SMA, Kuliah (semoga lain waktu bisa menulis cerita-cerita sekolah ini). Sekarang, sudah menjadi seorang istri dari laki-laki yang sangat kucintai dan kuhormati, bahkan ibu dari anak yang begitu lucu dan manis. Ya, waktu cepat sekali berlalu. Dulu masih bisa bermanja manja, minta ini itu, sama bapak ibu, mbah kakung, mbah uti. Sekarang mbah kakung duaduanya sudah almarhum (rinduuuu sangat),mbah uti dari bapak juga sudah meninggal waktu aku 2 tahun, tinggal 1 mbah uti yang sangat aku sayangi, aku kagumi (you are loved more than you know). Rindu masa lalu? Tentu!!! Terkadang ingin rasanya memutar kembali waktu agar bisa lebih lama bersenang2, bermanja2 dengan bapak ibu juga mbah. Tapi, itu tidak mungkin. Dan sekarang juga sudah bertambah kebahagiaan dengan adanya Alief, anakku.
Kenapa tiba2 menulis ini? Karena kembali teringat, bahwa kematian itu pasti, hanya waktunya saja yang kita tidak tahu. Dan, aku menjadi begitu takut kehilangan orang orang yang kusayang, seakan tidak rela. Pun, nanti aku yang juga akan mati meninggalkan orang orang yg kusayang, seperti tak kuasa juga. Pada akhirnya setiap orang akan menjadi cerita. Sama seperti kisah2 biografi tokoh2 zaman dulu.
Ya Alloh, apakah kecintaanku akan dunia sudah semakin besar? Takut kehilangan semua yang hanya titipan? Bimbinglah kami dan tetapkanlah kami dalam keimanan dan ketaqwaan padaMu, ingatkan selalu Kami akan kematian, dan jadikanlah kami orang orang yang dapat menganbil pelajaran dari kematian. Dan jika saat itu tiba, berikanlah kami keikhlasan dan kekuatan untuk melepas orang2 tercinta Kami, dan berikan keikhlasan dan kekuatan juga untuk orang2 uang kami tinggalkan jika tiba waktu kami. Aamiin...
Yaa Rabbi Engkau Maha Mengetahui hati hamba.. Begitu banyak nikmat yang telah Engkau berikan untuk hamba.. Terima Kasih ya Alloh.. Alhamdulillahirabbil'aalamiin..
Sabtu, 01 Februari 2014
Sedikit Cerita di Kereta
Hi my blog, lama sekali tidak nulis disini. Kalaupun ada, belum selesai, apalagi di-posting.
So, here I am, in(?) a train, dalam perjalanan pulang ke rumah menuju cuti panjang. Di sebelah saya duduk seorang ibu, mungkin usianya hampir 60. Tempat duduk ibu ini sebenarnya bukan di sebelah saya, tapi di bangku seberang saya. Tapi Alloh menakdirkan beliau untuk duduk di samping saya, karena beliau tukar kursi dengan sepasang suami istri(?).
Ibu ini, selanjutnya saya sebut beliau, rumahnya di Kutoarjo. Datang ke Jakarta untuk menemui anak2nya, di Depok dan Serpong. Kami mengobrol sedikit, dengan bahasa Jawa kromo (I like this part). Lalu tiba2 handphone beliau berbunyi, telepon dari anaknya. Sepertinya sang anak memastikan ibunya sudah duduk nyaman di kereta. Lalu beliau tiba2 menangis, air mata keluar dari matanya, dan telepon pun ditutup. Beliau pun bercerita kepada saya tentang anaknya tadi. Anaknya (atau menantunya, saya tidak tahu pasti)-laki2- akan dipindahtugaskan ke Sorong, dan istrinya akan mengantar suaminya itu, berangkat naik pesawat jam 1 dini hari nanti. Sang istri sengaja ambil cuti seminggu untuk mengantar suaminya.
Ah..ibu ini, padahal baru saja bertemu dengan saya, tapi beliau tidak peduli. Beliau terlalu sedih karena akan berjauhan dengan anaknya, sehingga tak malu orang lain melihatnya menangis.
Lalu beliau melanjutkan "Ya, sebagai orang tua cuma bisa berdoa mba"
Saya mencoba menimpali "masih di Indonesia bu..masih dekat.. ibu kapan2 bisa sambil jalan2 kesana bu ^^"
Beliau pun meng-iya-kan kata2 saya. Tapi raut wajahnya tetap memunculkan gurat kesedihan. Beliau melanjutkan, 3 orang anaknya semuanya tinggal jauh dari dirinya. Lampung, Serpong, dan satu lagi akan dipindah ke Sorong. Mau bagaimana lagi, hanya bisa mendoakan anak2nya selamat, dan semoga segera kembali dekat dengan mereka.
Tiba2 terbayang di benak saya, wajah ibu saya. Saat adik saya akan berangkat melanjutkan studi ke Birmingham, September lalu. Pun terbayang wajah ayah saya. Ya, mereka juga sama seperti ibu di samping saya ini. Sedih sekali akan berpisah jauh dan lama dengan anak bungsu mereka. Bahkan, menurut cerita ibu, Bapak sempat ragu untuk mengizinkan. Bukan karena apa, tapi hanya takut berjauhan dengan adik saya. Tapi, mereka pun akhirnya mengikhlaskan, meridhoi langkah adik saya untuk menggapai citanya. Walaupun dengan berat hati dan sedih. Seringkali saat saya di rumah, bapak menyuruh saya untuk video call dengan adik saya. Tapi beliau hanya mendengar saja, terlalu "trenyuh" hatinya kalau harus berbicara dengan adik saya. Ya, beliau rindu.
Alhamdulillah, Alloh pertemukan saya dengan ibu di samping saya ini. Semoga Alloh berkahi umurnya.. dan anak2nya segera kembali dekat dengannya.. aamiin..
Bapak, ibu, terima kasih untuk semua cinta kalian. Walau terkadang caranya kurang pas, tapi aku tahu, kalian hanya ingin membahagiakan kami. Berusaha memberikan yang terbaik untuk kami.
Dan adikku, aku juga sangat rindu padamu.
*menahan tangis di kereta*
Sabtu, 1 Februari 2014. Sawunggalih malam. 1 week before my wedding.
Will I...?
1 Januari 2014. Ya, selamat datang tahun yang baru. Orang-orang banyak yang disibukkan dengan perayaan tahun baru. Bahkan kantor2 pun banyak yg diliburkan, warna merah jadi penanda di kalender. Jujur, pertanyaan saya dari dulu adalah "kenapa 1 januari jadi hari libur?" Untuk refleksi? Merenung? Menyusun masa depan? Rehat sejenak? Akhirnya saya menyerah, saya sih ikut senang saja kalau kantor libur :D.
Saya pribadi tidak mengistimewakan perayaan tahun baru. Tapi saya juga turut senang melihat pendar warna-warni di langit malam tahun baru. Walaupun, menurut saya, tetap saja lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya merayakan malam pergantian tahun.
Tahun baru identik dengan resolusi. Banyak orang menyusun lagi rencana2 setahun kedepan, target2 yg belum tercapai,dsb. Bagi saya, sah sah saja. Bukan berarti karena saya tidak men-spesial-kan tahun baru, lalu saya mengejek, menyalahkan, atau mencemooh, orang2 yang membuat resolusi. Saya menganggap resolusi itu sebagai rencana. Bukankah kita harus merencanakan sesuatu dengan baik dulu sebelum menjalankannya? Bisa rencana harian, bulanan, dan juga tahunan (jadi ngomongin tahun baru terus.. :p)
Ya, saya pribadi punya banyak sekali keinginan ataupun target yg ingin dicapai. Tapi tiba2 tadi terlintas sesuatu dalam benak saya, saat seorang teman menulis "sampai ketemu besok" di whatsapp-nya ke saya. Deg! Tiba2 tersadarkan, belum tentu saya bisa bertemu dengan dia besok. Dan itu pun menjalar ke rencana2 yang lain.
.........
16 juni 2015. Mengintip blog sejenak. Melihat postingan ini di draft, yang belum diselesaikan dulu. Saya pun lupa mau menulis apa sebagai kelanjutannya... Tapi sepertinya intinya, akankah saya bisa menyelesaikan rencana-rencana saya. Apakah saya masih punya kesempatan hidup untuk menjalani rencana-rencana saya. Karena jatah umur manusia, hanya Alloh yang Tahu.. Semoga semakin hari kita semakin jadi lebih baik. Aamiin..
Jumat, 29 Maret 2013
Untukmu bapak penjual bakso
Malam ini rasa lapar plus kehabisan uang di dompet akhirnya mengalahkan rasa malas. Sekitar jam 8 malam, saya keluar ke salah satu swalayan dekat kos dengan niat ambil uang di ATM lalu pulangnya mampir beli makan. Dari kosan sudah terpikir mau beli nasi uduk. Tapi, saat berangkat, saya melewati penjual bakso keliling yang sedang mangkal dekat masjid yg saya lewati. Penjual bakso yang, entah beberapa kali saya ingin membeli bakso darinya tapi belum kesampaian.
Saya terus berjalan ke swalayan. Segera setelah tarik tunai dan membeli beberapa cemilan, saya pun pulang. Dalam perjalanan, saya bertanya2 sendiri
"Tukang baksonya masih ada gak ya?",
"Beli bakso atau nasi uduk ya? Sebenernya pengen makan nasi, tapi...",
"Yaudahlah, kalo nanti tukang baksonya masih di tempat tadi, aku beli bakso aja".
Dan tukang bakso ternyata masih ada di tempat yang sama seperti saat saya berangkat tadi. Bismillah...aku mau beli bakso saja.
"Bapak, mau beli bakso 1(bungkus)"
Beliau tersenyum dan bertanya "pake mie apa neng?"
"campur aja pak"
Penjual bakso ini terbilang sudah sepuh. Mungkin 60 tahun ke atas. Tampilannya begitu sederhana dan bersahaja. Sebetulnya kenapa saya ingin membeli bakso ini karena rasanya tak tega melihat beliau. Selain itu juga kagum, beliau terlihat sabar dan setia menunggu dagangannya, tidak terlihat lelah. Entahlah, saya memang mudah tersentuh oleh hal semacam ini. Seringkali ingin membeli sesuatu karena kasihan melihat penjualnya, terlebih lagi bapak-bapak atau ibu-ibu tua yang sudah berumur. Dalam benak saya, mereka luar biasa. Dengan tubuh yang tak lagi muda, mereka tetap bersemangat mencari nafkah, benar2 berusaha. Simpati saya jauh lebih besar kepada mereka dibanding peminta2 di jalan, yang tak sedikit pula sengaja membawa anak kecil atau bahkan bayi bersamanya. Membiarkan bayi2 itu menghirup asap polusi Jakarta, mengajari mereka untuk meminta2 tanpa berusaha. Setidaknya, begitulah pikiran saya berjalan.
Tangan bapak penjual bakso mulai mengerjakan pesanan saya dengan pelan. Tak masalah bagi saya, saya tidak sedang terburu2. Lagipula saya tidak akan tega menyuruhnya untuk cepat-cepat. Awalnya saya berniat menunggu sambil bermain handphone, tapi saya mengurungkan niat itu. Saya pikir, saya harus menghargai beliau sebagai orang yg lebih tua, meskipun beliau hanya penjual bakso.
"pake sambel neng?" Bapak tadi kembali bertanya ramah pada saya.
"iya pak", jawab saya.
Sesaat kemudian, pesanan saya selesai.
"Berapa pak?"
"7000. Pulangnya jauh neng?"
"gak pak, deket, situ aja. Ini pak, terimakasih ya pak?"
Saya pun berlalu. Tujuh ribu rupiah saja, harganya tentu sangat jauh dengan bakso2 yang dijual di tempat2 makan di jakarta. Sebenarnya saya ingin memberi beliau lebih, tapi agak segan juga, takutnya beliau merasa tidak nyaman. Porsi baksonya memang sedikit minimalis, tapi rasa tak jauh berbeda dengan bakso2 ala restoran, menurut saya.
Selama menunggu pesanan tadi, saya sempat melihat2 gerobak bakso bapak. Bahan2 yang ada sangat sedikit. Entah karena memang sudah laris, atau memang beliau hanya menyiapkan sedikit porsi aja. Mengingat, setiap kali saya melihat beliau, hanya satu atau dua kali saya melihat pembeli mampir. Saya jadi berpikir, mungkin beliau tahu berapa porsi bakso yg biasa terjual sehingga dia tahu harus menyiapkan bahan2 sebanyak apa. Meskipun begitu, saya berdoa semoga dagangan beliau memang sudah laris, jadi bahan2nya tinggal sedikit (aamiin).
Satu pikiran melintas dalam benak saya. Alloh lah yang menggerakan hambaNya. Saya pun berpikir, seandainya Alloh tidak menggerakan saya untuk bangkit dari kemalasan, mungkin berkurang 1 porsi jualan bapak tadi. Tidak, semuanya memang sudah diatur olehNya dengan begitu rupa.
Bapak penjual bakso, yang bahkan saya tak tahu namanya. Semoga Alloh tetap kuatkan hatimu untuk mencari nafkah dengan cara halal dengan penuh semangat. Semoga Alloh berikanmu dan keluargamu kesehatan, kemudahan rezeki. Jika aku bukan perantara rezeki untukmu, semoga Alloh turunkan perantara2 rezeki yang lain. Dan semoga Alloh ampunkan dosamu karena kau telah bersyukur padaNya dengan tetap giat bekerja. Aamiin...