12 Juli, 00.14
Terbangun karena anak bangun, kemudian sholat isya (yang sangat terlambat). Tiba2 banyak sekali pikiran-pikiran melintas di kepala. Tak terasa sudah makin berumur, kurang dari satu bulan akan genap 26 umurku. Sekarang sudah ada malaikat kecil (barusan dia terbatuk sambil tidur) yang selalu menemani tidur, membawa begitu banyak kebahagiaan dalam hidupku, memberi warna warni penuh keceriaan bagi keluarga kecil kami, dan tentunya penambah kebahagiaan keluarga besar kami juga.
Benar2 seolah waktu berjalan begitu cepatnya. Masih membekas jelas di ingatan, saat masih sangat kecil, masih tinggal di rumah lama, punya bantal buluk kesayangan, tangan kena bunga api waktu ikut bakar2 sampah hasil nyapu2 halaman samping rumah. Masih ingat kemudian masuk SD, hari pertama (sepertinya) duduk di bangku panjang, dikumpulkan dengan teman2 baru (dulu gimana ya rasanya). Ingat juga saat dititipi ibu belanjaan pisang untuk dibawa pulang karena ibu masih ada keperluan di sekolah, tapi malah mampir main dulu, dan sang pisang sudah bonyok2 begitu nyampe rumah yang akhirnya sampainya juga hampir bareng dengan ibu. Imunisasi, lomba kartini, lompat jauh yang membuat kaki terluka, senam pagi, jadi dirigen waktu upacara, lomba paduan suara, les nari, tabloid fantasi dan banyak lainnya hal-hal waktu SD yang masih terekam di memori hingga saat ini. Sebagian masih terekam dengan baik, sebagian lagi samar2. Namun semuanya sama, indah dan mengasyikkan.
Dari SD beranjak ke SMP, SMA, Kuliah (semoga lain waktu bisa menulis cerita-cerita sekolah ini). Sekarang, sudah menjadi seorang istri dari laki-laki yang sangat kucintai dan kuhormati, bahkan ibu dari anak yang begitu lucu dan manis. Ya, waktu cepat sekali berlalu. Dulu masih bisa bermanja manja, minta ini itu, sama bapak ibu, mbah kakung, mbah uti. Sekarang mbah kakung duaduanya sudah almarhum (rinduuuu sangat),mbah uti dari bapak juga sudah meninggal waktu aku 2 tahun, tinggal 1 mbah uti yang sangat aku sayangi, aku kagumi (you are loved more than you know). Rindu masa lalu? Tentu!!! Terkadang ingin rasanya memutar kembali waktu agar bisa lebih lama bersenang2, bermanja2 dengan bapak ibu juga mbah. Tapi, itu tidak mungkin. Dan sekarang juga sudah bertambah kebahagiaan dengan adanya Alief, anakku.
Kenapa tiba2 menulis ini? Karena kembali teringat, bahwa kematian itu pasti, hanya waktunya saja yang kita tidak tahu. Dan, aku menjadi begitu takut kehilangan orang orang yang kusayang, seakan tidak rela. Pun, nanti aku yang juga akan mati meninggalkan orang orang yg kusayang, seperti tak kuasa juga. Pada akhirnya setiap orang akan menjadi cerita. Sama seperti kisah2 biografi tokoh2 zaman dulu.
Ya Alloh, apakah kecintaanku akan dunia sudah semakin besar? Takut kehilangan semua yang hanya titipan? Bimbinglah kami dan tetapkanlah kami dalam keimanan dan ketaqwaan padaMu, ingatkan selalu Kami akan kematian, dan jadikanlah kami orang orang yang dapat menganbil pelajaran dari kematian. Dan jika saat itu tiba, berikanlah kami keikhlasan dan kekuatan untuk melepas orang2 tercinta Kami, dan berikan keikhlasan dan kekuatan juga untuk orang2 uang kami tinggalkan jika tiba waktu kami. Aamiin...
Yaa Rabbi Engkau Maha Mengetahui hati hamba.. Begitu banyak nikmat yang telah Engkau berikan untuk hamba.. Terima Kasih ya Alloh.. Alhamdulillahirabbil'aalamiin..
Sabtu, 11 Juli 2015
Throwback-Life-Death
Sabtu, 01 Februari 2014
Sedikit Cerita di Kereta
Hi my blog, lama sekali tidak nulis disini. Kalaupun ada, belum selesai, apalagi di-posting.
So, here I am, in(?) a train, dalam perjalanan pulang ke rumah menuju cuti panjang. Di sebelah saya duduk seorang ibu, mungkin usianya hampir 60. Tempat duduk ibu ini sebenarnya bukan di sebelah saya, tapi di bangku seberang saya. Tapi Alloh menakdirkan beliau untuk duduk di samping saya, karena beliau tukar kursi dengan sepasang suami istri(?).
Ibu ini, selanjutnya saya sebut beliau, rumahnya di Kutoarjo. Datang ke Jakarta untuk menemui anak2nya, di Depok dan Serpong. Kami mengobrol sedikit, dengan bahasa Jawa kromo (I like this part). Lalu tiba2 handphone beliau berbunyi, telepon dari anaknya. Sepertinya sang anak memastikan ibunya sudah duduk nyaman di kereta. Lalu beliau tiba2 menangis, air mata keluar dari matanya, dan telepon pun ditutup. Beliau pun bercerita kepada saya tentang anaknya tadi. Anaknya (atau menantunya, saya tidak tahu pasti)-laki2- akan dipindahtugaskan ke Sorong, dan istrinya akan mengantar suaminya itu, berangkat naik pesawat jam 1 dini hari nanti. Sang istri sengaja ambil cuti seminggu untuk mengantar suaminya.
Ah..ibu ini, padahal baru saja bertemu dengan saya, tapi beliau tidak peduli. Beliau terlalu sedih karena akan berjauhan dengan anaknya, sehingga tak malu orang lain melihatnya menangis.
Lalu beliau melanjutkan "Ya, sebagai orang tua cuma bisa berdoa mba"
Saya mencoba menimpali "masih di Indonesia bu..masih dekat.. ibu kapan2 bisa sambil jalan2 kesana bu ^^"
Beliau pun meng-iya-kan kata2 saya. Tapi raut wajahnya tetap memunculkan gurat kesedihan. Beliau melanjutkan, 3 orang anaknya semuanya tinggal jauh dari dirinya. Lampung, Serpong, dan satu lagi akan dipindah ke Sorong. Mau bagaimana lagi, hanya bisa mendoakan anak2nya selamat, dan semoga segera kembali dekat dengan mereka.
Tiba2 terbayang di benak saya, wajah ibu saya. Saat adik saya akan berangkat melanjutkan studi ke Birmingham, September lalu. Pun terbayang wajah ayah saya. Ya, mereka juga sama seperti ibu di samping saya ini. Sedih sekali akan berpisah jauh dan lama dengan anak bungsu mereka. Bahkan, menurut cerita ibu, Bapak sempat ragu untuk mengizinkan. Bukan karena apa, tapi hanya takut berjauhan dengan adik saya. Tapi, mereka pun akhirnya mengikhlaskan, meridhoi langkah adik saya untuk menggapai citanya. Walaupun dengan berat hati dan sedih. Seringkali saat saya di rumah, bapak menyuruh saya untuk video call dengan adik saya. Tapi beliau hanya mendengar saja, terlalu "trenyuh" hatinya kalau harus berbicara dengan adik saya. Ya, beliau rindu.
Alhamdulillah, Alloh pertemukan saya dengan ibu di samping saya ini. Semoga Alloh berkahi umurnya.. dan anak2nya segera kembali dekat dengannya.. aamiin..
Bapak, ibu, terima kasih untuk semua cinta kalian. Walau terkadang caranya kurang pas, tapi aku tahu, kalian hanya ingin membahagiakan kami. Berusaha memberikan yang terbaik untuk kami.
Dan adikku, aku juga sangat rindu padamu.
*menahan tangis di kereta*
Sabtu, 1 Februari 2014. Sawunggalih malam. 1 week before my wedding.
Will I...?
1 Januari 2014. Ya, selamat datang tahun yang baru. Orang-orang banyak yang disibukkan dengan perayaan tahun baru. Bahkan kantor2 pun banyak yg diliburkan, warna merah jadi penanda di kalender. Jujur, pertanyaan saya dari dulu adalah "kenapa 1 januari jadi hari libur?" Untuk refleksi? Merenung? Menyusun masa depan? Rehat sejenak? Akhirnya saya menyerah, saya sih ikut senang saja kalau kantor libur :D.
Saya pribadi tidak mengistimewakan perayaan tahun baru. Tapi saya juga turut senang melihat pendar warna-warni di langit malam tahun baru. Walaupun, menurut saya, tetap saja lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya merayakan malam pergantian tahun.
Tahun baru identik dengan resolusi. Banyak orang menyusun lagi rencana2 setahun kedepan, target2 yg belum tercapai,dsb. Bagi saya, sah sah saja. Bukan berarti karena saya tidak men-spesial-kan tahun baru, lalu saya mengejek, menyalahkan, atau mencemooh, orang2 yang membuat resolusi. Saya menganggap resolusi itu sebagai rencana. Bukankah kita harus merencanakan sesuatu dengan baik dulu sebelum menjalankannya? Bisa rencana harian, bulanan, dan juga tahunan (jadi ngomongin tahun baru terus.. :p)
Ya, saya pribadi punya banyak sekali keinginan ataupun target yg ingin dicapai. Tapi tiba2 tadi terlintas sesuatu dalam benak saya, saat seorang teman menulis "sampai ketemu besok" di whatsapp-nya ke saya. Deg! Tiba2 tersadarkan, belum tentu saya bisa bertemu dengan dia besok. Dan itu pun menjalar ke rencana2 yang lain.
.........
16 juni 2015. Mengintip blog sejenak. Melihat postingan ini di draft, yang belum diselesaikan dulu. Saya pun lupa mau menulis apa sebagai kelanjutannya... Tapi sepertinya intinya, akankah saya bisa menyelesaikan rencana-rencana saya. Apakah saya masih punya kesempatan hidup untuk menjalani rencana-rencana saya. Karena jatah umur manusia, hanya Alloh yang Tahu.. Semoga semakin hari kita semakin jadi lebih baik. Aamiin..
Jumat, 29 Maret 2013
Untukmu bapak penjual bakso
Malam ini rasa lapar plus kehabisan uang di dompet akhirnya mengalahkan rasa malas. Sekitar jam 8 malam, saya keluar ke salah satu swalayan dekat kos dengan niat ambil uang di ATM lalu pulangnya mampir beli makan. Dari kosan sudah terpikir mau beli nasi uduk. Tapi, saat berangkat, saya melewati penjual bakso keliling yang sedang mangkal dekat masjid yg saya lewati. Penjual bakso yang, entah beberapa kali saya ingin membeli bakso darinya tapi belum kesampaian.
Saya terus berjalan ke swalayan. Segera setelah tarik tunai dan membeli beberapa cemilan, saya pun pulang. Dalam perjalanan, saya bertanya2 sendiri
"Tukang baksonya masih ada gak ya?",
"Beli bakso atau nasi uduk ya? Sebenernya pengen makan nasi, tapi...",
"Yaudahlah, kalo nanti tukang baksonya masih di tempat tadi, aku beli bakso aja".
Dan tukang bakso ternyata masih ada di tempat yang sama seperti saat saya berangkat tadi. Bismillah...aku mau beli bakso saja.
"Bapak, mau beli bakso 1(bungkus)"
Beliau tersenyum dan bertanya "pake mie apa neng?"
"campur aja pak"
Penjual bakso ini terbilang sudah sepuh. Mungkin 60 tahun ke atas. Tampilannya begitu sederhana dan bersahaja. Sebetulnya kenapa saya ingin membeli bakso ini karena rasanya tak tega melihat beliau. Selain itu juga kagum, beliau terlihat sabar dan setia menunggu dagangannya, tidak terlihat lelah. Entahlah, saya memang mudah tersentuh oleh hal semacam ini. Seringkali ingin membeli sesuatu karena kasihan melihat penjualnya, terlebih lagi bapak-bapak atau ibu-ibu tua yang sudah berumur. Dalam benak saya, mereka luar biasa. Dengan tubuh yang tak lagi muda, mereka tetap bersemangat mencari nafkah, benar2 berusaha. Simpati saya jauh lebih besar kepada mereka dibanding peminta2 di jalan, yang tak sedikit pula sengaja membawa anak kecil atau bahkan bayi bersamanya. Membiarkan bayi2 itu menghirup asap polusi Jakarta, mengajari mereka untuk meminta2 tanpa berusaha. Setidaknya, begitulah pikiran saya berjalan.
Tangan bapak penjual bakso mulai mengerjakan pesanan saya dengan pelan. Tak masalah bagi saya, saya tidak sedang terburu2. Lagipula saya tidak akan tega menyuruhnya untuk cepat-cepat. Awalnya saya berniat menunggu sambil bermain handphone, tapi saya mengurungkan niat itu. Saya pikir, saya harus menghargai beliau sebagai orang yg lebih tua, meskipun beliau hanya penjual bakso.
"pake sambel neng?" Bapak tadi kembali bertanya ramah pada saya.
"iya pak", jawab saya.
Sesaat kemudian, pesanan saya selesai.
"Berapa pak?"
"7000. Pulangnya jauh neng?"
"gak pak, deket, situ aja. Ini pak, terimakasih ya pak?"
Saya pun berlalu. Tujuh ribu rupiah saja, harganya tentu sangat jauh dengan bakso2 yang dijual di tempat2 makan di jakarta. Sebenarnya saya ingin memberi beliau lebih, tapi agak segan juga, takutnya beliau merasa tidak nyaman. Porsi baksonya memang sedikit minimalis, tapi rasa tak jauh berbeda dengan bakso2 ala restoran, menurut saya.
Selama menunggu pesanan tadi, saya sempat melihat2 gerobak bakso bapak. Bahan2 yang ada sangat sedikit. Entah karena memang sudah laris, atau memang beliau hanya menyiapkan sedikit porsi aja. Mengingat, setiap kali saya melihat beliau, hanya satu atau dua kali saya melihat pembeli mampir. Saya jadi berpikir, mungkin beliau tahu berapa porsi bakso yg biasa terjual sehingga dia tahu harus menyiapkan bahan2 sebanyak apa. Meskipun begitu, saya berdoa semoga dagangan beliau memang sudah laris, jadi bahan2nya tinggal sedikit (aamiin).
Satu pikiran melintas dalam benak saya. Alloh lah yang menggerakan hambaNya. Saya pun berpikir, seandainya Alloh tidak menggerakan saya untuk bangkit dari kemalasan, mungkin berkurang 1 porsi jualan bapak tadi. Tidak, semuanya memang sudah diatur olehNya dengan begitu rupa.
Bapak penjual bakso, yang bahkan saya tak tahu namanya. Semoga Alloh tetap kuatkan hatimu untuk mencari nafkah dengan cara halal dengan penuh semangat. Semoga Alloh berikanmu dan keluargamu kesehatan, kemudahan rezeki. Jika aku bukan perantara rezeki untukmu, semoga Alloh turunkan perantara2 rezeki yang lain. Dan semoga Alloh ampunkan dosamu karena kau telah bersyukur padaNya dengan tetap giat bekerja. Aamiin...
Selasa, 26 Maret 2013
Little steps, hang out, get fresh air, and recall memories
| Pedestrian track in front of I building |
| Depan plasa mahasisa (Plasma) sekarang sudah teduh untuk bersantai |
![]() |
| Beberapa tahun lalu, seperti berada di persimpangan, memilih sekolah ini atau universitas impian yang begitu diidamkan |
| just old stem of a plant |
| Kampus yang akhirnya kupilih dan aku bangga menjadi lulusan STAN |
| Merah putih berkibar di gerbang STAN, mari berbuat yang terbaik untuk negeri ^___^ |
Memory of March, 24th 2013 @kampus STAN, Bintaro
Selasa, 12 Maret 2013
Belajar dari anak-anak
Hari ini saya pergi mengunjungi salah seorang teman kantor yang baru saja melahirkan anak keduanya, 5 hari lalu. Di samping bayi mungil yang sedang digendong sang nenek, kakaknya yang berusia kurang lebih 5 tahun sedang asyik menggambar. Dengan bermediakan kertas bekas 'print out' yang tak terpakai sambil mengayunkan pulpen, dia membuat bermacam gambar. Salah satunya angry birds.
Gambarnya ya khas gambar anak2, beberapa banyak yang susah ditebak itu gambar apa. Tapi dia bisa menjelaskan. Dengan gambarnya, dia juga memeragakan, bagaimana birds seolah2 dilempar dari ketapel dan mengenai babi-babi. Dia menceritakan dengan penuh tawa dan kepuasan. Dia bahagia.
Melihat hal itu, saya tersenyum sendiri. Saya kemudian berpikir, sungguh sederhananya bahagia menurut anak2. Hanya bermodalkan pulpen dan kertas bekas. Saya jadi ingat masa kecil saya. Di belakang rumah saya dulu, ada tanah yang cukup tinggi dan miring. Sore hari, terkadang saya bermain "prosotan" di situ dengan adik dan teman2 saya. Puas sekali rasanya. Seperti berselancar memakai papan luncur. Baju kotor, pastinya. Ditegur ibu saat masuk rumah, cuma tertawa.
Ada juga sepupu saya, umurnya baru 3. Bangun tidur, dia langsung pergi melihat anak ayamnya yang baru menetas. Mengajak kakak saya untuk melihat anak ayamnya. Dia berteriak kegirangan, bersorak bahagia hanya dengan mengamati anak ayamnya.
Anak anak dengan keluguannya, bisa bahagia dgn mudahnya, dengan cara sederhana. Tidak seperti orang dewasa. Sepertinya, standar bahagia menjadi semakin tinggi dan rumit. Harta, jabatan, dan sebagainya. Seringkali terlalu takut tidak akan bahagia jika tidak bisa mencapai standar itu. Akhirnya, termakan oleh pemikiran sendiri. Mengejar ini itu hanya untuk kepuasan duniawi. Dibayangi oleh ketakutan2 yang diciptakan sendiri.
Kita perlu belajar dari anak anak tentang sederhananya sebuah kebahagiaan. Tak perlu standar yang tinggi. Tak perlu takut pada bayangan2 risiko yang mungkin akan muncul. Hadapi saja, lanjutkan saja. Lupakan rasa takutmu dan ciptakan kebahgiaanmu sendiri.
Dan selalu bersyukur pastinya, atas segala yang kita punya. Agar lebih bahagia. ^_____^
Selasa, 26 Februari 2013
Rutinitas itu menyenangkan
***
Saya sendiri, dan mungkin banyak pekerja kantoran lainnya, seolah terjebak dalam rutinitas hari-hari kerja. Dari Senin sampai Jumat, dari pagi sampai sore, seringkali malam. Yang dilakukan pun itu-itu saja. Jam setengah 8 mulai bekerja, jam 12 istirahat, jam 5 sore pulang. Dan berulang seperti itu setiap harinya. Kalau dirasa-rasa memang membosankan. Namun, terkadang rutinitas yang sudah pasti waktunya itu saya rindukan. Setelah saya tahu banyak hal yang bisa saya serap dan manfaatkan dari rutinitas itu.
Keteraruran dan disiplin waktu. Itu yang pertama. Kerja pagi mengharuskan saya bangun pagi, untuk tidur lagi setelah shubuh juga gak tega. Dan memang gak baik tidur setelah shubuh :p.
Sampai di kantor dan memulai bekerja, ternyata banyak ilmu yang bisa didapat, bagi yang mau belajar menggalinya. Kecuali kalau yang bekerja hanya untuk menggugurkan kewajiban atau sekedar absen, itu lain cerita. Na'udzubillah..
Teman dan pelajaran hidup dari mereka. Bersosialisasi, bergaul dengan banyak orang di lingkungan kerja, atau dalam lingkungan apapun Anda, kita bisa mengambil pelajaran hidup dari orang lain. Tentunya jika kita mau membuka diri dan bergaul, bukan hanya diam dan asyik sendiri. Alhamdulillah, di kantor saya, khususnya bagian saya, menganggap, teman di tempat kerja harus bisa jadi keluarga juga. Maka yang diobrolkan di kantor juga tak melulu tentang kerjaa, tapi juga kehidupan pribadi, walaupun ada batas-batas privasi yang sama-sama dimengerti. Bercanda dengan mereka di sela2 pekerjaan yang memusingkan, menjadi refreshing tersendiri untuk menyegarkan pikiran dan kembali bekerja.
Ibadah. Alhamdulillah, kantor saya termasuk kantor yang kondusif untuk beribadah. Shalat di kantor jadi ada teman untuk berjamaah. dan rasanya akan aneh kalau shalat sendiri, ada yang kurang. Shalat dhuha, ini saat yang paling saya sukai di kantor. Pagi hari, di sela2 pekerjaan yang makin asyik untuk diselesaikan, banyak pegawai yang rehat sejenak, mengambil air wudhu, shalat dhuha. Subhanalloh.. senang dan tenteram rasanya saat menuju mushola kecil di sudut ruangan dan mendapati sudah ada orang-orang yang sedang shalat dhuha disana. Orang-orang seperti ini, yang berlomba-lomba dalam kebaikan, melakukan amalan sunnah, yang cukup banyak menyemangati saya secara tidak langsung untuk tetap menjaga sholat dhuha.
***
Dan semua itu berbeda, saat hari libur datang. Seringkali cuma tidur atau sekadar bermain laptop dan baca buku (:p). Shalat dhuha terasa sepi, sendirian di kamar. Teman mengobrol juga sedikit karena masing2 punya kehidupan sendiri-sendiri. Ada yang hilang, ada yang kurang.
Tapi saya sadar, bukan karena libur, maka saya bisa bermalas-malasan. Ibadah tak boleh menurun. Mencari ilmu juga harus tetap berjalan. Maka saya coba buat rutinitas juga di hari libur. Ambil les merupakan salah satu yang saya pilih.:D
Semoga kita tidak terjebak dalam rutinitas yang menghanyutkan, dan kemudian terlena di dalamnya. Semoga rutinitas kita adalah rutinitas yang bermanfaat. Semoga Istiqomah. \(^0^)/
